
Artificial Intelligence (AI) telah membantu perusahaan meningkatkan produktivitas, mempercepat analisis data, hingga mengotomatisasi berbagai proses bisnis. Namun, teknologi yang sama kini juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk menemukan celah keamanan, membuat eksploitasi, dan melancarkan serangan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Cisco menjelaskan bahwa jarak antara ditemukannya sebuah kerentanan (vulnerability) hingga dimanfaatkan oleh penyerang kini menyusut drastis. Jika sebelumnya organisasi masih memiliki waktu berminggu-minggu untuk merespons, kini serangan dapat terjadi hanya dalam hitungan hari bahkan jam.
Banyak perusahaan masih menerapkan model keamanan yang dirancang untuk kondisi beberapa tahun lalu, seperti:
Pendekatan tersebut tidak lagi sebanding dengan kecepatan ancaman berbasis AI.
Cisco mengungkapkan bahwa rata-rata organisasi masih membutuhkan sekitar 43 hari untuk memperbaiki kerentanan kritis. Dalam periode tersebut, penyerang berpotensi memanfaatkan celah yang sama jauh lebih cepat.
Permasalahan utama bukan hanya karena AI semakin canggih, tetapi karena proses pertahanan perusahaan masih berjalan secara manual dan reaktif.
Ketika proses keamanan tidak mampu mengikuti kecepatan ancaman, perusahaan berpotensi menghadapi berbagai risiko, seperti:
Selain kerugian finansial, insiden keamanan juga dapat menghambat transformasi digital dan inovasi perusahaan.
Era AI telah mengubah cara serangan siber berkembang. Model keamanan yang hanya mengandalkan patch berkala dan respons setelah insiden tidak lagi cukup.
Perusahaan perlu mulai mengevaluasi apakah strategi keamanan yang digunakan saat ini masih mampu mengikuti kecepatan ancaman modern.
(Sumber : www.cisco.com)
Business Park Kebon Jeruk Blok C1-12, RT.1/RW.5, Meruya Utara,
Kec. Kembangan, Kota Jakarta Barat, Jakarta 11620
Phone : +62 21 570 4789, Email : support@cssjakarta.com
© 2023 PT. CITRA SENTOSA SOLUSINDO
All rights reserved
© 2023 PT. CITRA SENTOSA SOLUSINDO
All rights reserved